NEWS BOTAWA– Suasana politik di Papua memasuki babak baru setelah Mahkamah Konstitusi (MK) menolak gugatan pasangan Benhur Tomi Mano–Constant Karma atas hasil Pemungutan Suara Ulang (PSU) Pemilihan Gubernur Papua. Putusan yang dibacakan pada Rabu (17/9/2025) itu memastikan kemenangan pasangan Mathius D. Fakhiri–Aryoko Rumaropen (Mariyo), dengan perolehan suara 259.817 atau 50,4 persen.
Dengan demikian, kontestasi politik yang berlangsung sengit sejak 2024 akhirnya menemui titik akhir. Pasangan Mariyo dinyatakan sebagai pemenang dan segera ditetapkan sebagai Gubernur–Wakil Gubernur Papua terpilih.
Ajakan Bersatu untuk Papua Damai
Juru bicara pasangan Mariyo, Muhammad Rifai Darus, mengajak seluruh elemen masyarakat Papua untuk kembali bersatu, meninggalkan rivalitas politik, dan bersama-sama membangun tanah Papua.
“Kemenangan dan suka cita ini adalah kemenangan seluruh rakyat Papua, dari pesisir hingga pegunungan, dari kota hingga kampung, yang telah menggunakan hak konstitusionalnya dengan damai dan penuh tanggung jawab,” ujar Rifai dalam keterangan resminya.
Menurutnya, Pilgub Papua yang melewati dua kali putaran, sengketa, hingga PSU, menjadi ujian kedewasaan demokrasi di Papua. Karena itu, usai putusan MK, masyarakat diminta menjaga perdamaian, menghindari provokasi dan hoaks, serta menolak segala bentuk perpecahan.
“Papua harus dibangun dengan kasih, persaudaraan, dan gotong royong. Saatnya bahu-membahu mewujudkan kesejahteraan dan keadilan sosial,” tambah Rifai.
Momentum Awal Membangun Papua
Putusan MK dan penetapan pasangan terpilih disebut Rifai sebagai momentum baru untuk membangun Papua yang lebih maju, aman, dan bermartabat.

Baca Juga: Papua Pegunungan Mencekam 500 Warga Mengungsi ke Mapolres Yalimo
“Kontestasi telah usai, saatnya kita melangkah bersama mewujudkan Papua yang sejahtera demi masa depan anak cucu kita. Dengan bergandengan tangan, rakyat akan merasa nyaman dalam kasih dan persaudaraan yang mendalam untuk Tanah Papua,” ujarnya yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua PWNU Papua.
Rifai menegaskan bahwa kemenangan Mariyo bukan hanya keberhasilan politik, melainkan juga amanah besar dari Tuhan dan rakyat Papua. Karena itu, ia mengucapkan terima kasih kepada penyelenggara pemilu, aparat keamanan, tokoh adat, tokoh agama, perempuan, pemuda, serta seluruh masyarakat yang menjaga demokrasi di Bumi Cenderawasih.
pasangan Mathius Fakhiri–Aryoko Rumaropen. Keduanya dihadapkan pada tantangan berat: meningkatkan kesejahteraan masyarakat, memperkuat infrastruktur, menciptakan lapangan kerja, serta memastikan stabilitas keamanan di Papua.
Selain itu, pembangunan yang adil antara wilayah pesisir, lembah, dan pegunungan menjadi pekerjaan rumah besar. Papua yang kaya akan sumber daya alam dan budaya, diharapkan benar-benar sejahtera di tangan kepemimpinan baru.
“Papua butuh pemimpin yang bisa merangkul semua pihak, mengayomi, dan menghadirkan keadilan sosial. Semoga putusan MK ini benar-benar menjadi awal dari persatuan Papua,” ujar Rifai menutup pernyataannya.




